Senin, Agustus 04, 2008

Pengalaman Berstruktur


Jika kita dapat menyepakati bahwa dalam pendidikan non formal atau pendidikan orang dewasa yang paling berdaya hasil adalah pengalaman-pengalaman belajar yang menuntut tingkat keikut sertaan yang tinggi dari para pesertanya, maka mungkin suatu teknik pelajar yang disebut "Pengalaman Terstruktur" (Structure Learning Experience) dapat kita terima sebagai suatu metode yang patut kita pelajari untuk memperkaya khasanah kemampuan kita dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan belajar non formal. Selain itu, karena seseorang yang telah dewasa sangat kaya akan berbagai pengalaman hidup dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu "wadah kosong", maka penggunaan metoda pengalaman berstruktur dapat diharapkan akan lebih berdaya hasil, karena akan merangsang mereka yang sedang belajar untuk mengolah pengalamannya sendiri dan kemudian menarik pelajar dari sana. Lagi pula, penggunaan metode ini menunjukkan adanya rasa hormat pada harkat kemanusiaan mereka yang memang kaya dengan pengalaman itu.

APA PENGALAMAN BERSTRUKTUR ITU?

Pengalaman berstruktur dirancang untuk menerapkan sesuatu atas dasar pengalaman nyata dalam suatu daur ulang proses belajar yang terdiri dari lima prosedur atau tahapan yang berbeda namun tetap saling berkaitan satu sama lain. Seperti dikesankan oleh namanya, model ini memberikan penekanan terutama pada pengalaman-pengalaman langsung dan nyata dari para peserta atau warga belajar, berlawanan dengan pengalaman-pengalaman semu yang diperoleh melalui pendekatan atau cara yang bersifat didaktis.

Model atau metode ini juga merupakan suatu proses induktif dimana peserta atau warga belajar menemukan sendiri isi atau ajaran yang ditawarkan atau disediakan oleh pengalamannya. Penemuan itu dapat dirangsang atau dibimbing oleh seorang pembimbing, namun pada akhirnya para pesert atau warga belajar sendirilah yang menemukan dan mengolah pengalamannya. Inilah yang kita sebut sebagai "laboratorium" atau "pengalaman" dalam suatu proses belajar.

Model ini didasarkan pada asumsi bahwa pengalaman mendahului proses belajar dan bahwa ajaran atau isi dan makna sesuatu harus berasal dari pengalaman apapun yang dimiliki oleh warga belajar sendiri. Setiap orang pada dasarnya memiliki pengalaman-pengalaman yang khas dan tidak ada orang lain yang dapat menuntutnya untuk menarik pelajaran tertentu dari suatu kegiatan tertentu pula. Kita memang dapat saja menyusun suatu kegiatan dari mana ia akan menarik suatu pelajaran. Namun para warga belajar sendirilah yang akan menentukan apa yang ingin mereka pelajari.

Lima prosedur atau tahapan langkah metode pengalaman berstruktur ini adalah sebagai berikut :

1. Mengalami

Proses ini selalu dimulai dengan adanya pengalaman dengan melakukan langsung sesuatu kegiatan. Di sini peserta dilibatkan dan bertindak atau berperilaku mengikuti suatu pola tertentu. Apa yang dilakukan dan dialaminya adalah mengerjakan, mengamati, melihat, atau mengatakan sesuatu. Pengalaman inilah yang menjadi titik tolak proses selanjutnya.

2. Mengungkapkan

Setelah pengalaman itu sendiri maka yang penting bagi para peserta adalah mengungkapkan dengan menyatakan kembali apa yang sudah dialaminya dan tanggapan atau kesan mereka atas pengalaman tersebut, termasuk pengalaman rekan-rekannya sesama peserta atau warga belajar.

3. Mengolah

Peserta kemudian menkaji semua ungkapan pengalaman tersebut, pengalaman sendiri atau pengalaman rekan-rekannya, kemudian mengkaitkan dengan pengalaman lain yang mungkin mengandung ajaran makna yang serupa.

4. Menyimpulkan

Kelanjutan logis dari pengkajian pengalaman tersebut adalah keharusan untuk mengembangkan atau merumuskan prinsip-prinsip berupa kesimpulan umum (generalisasi) dari pengalaman tadi. Menyatakan apa yang telah dialami dan dipelajari dengan cara seperti ini akan membantu para peserta untuk merumuskan, memperinci, dan memperjelas hal-hal yang telah dipelajarinya.

5. Menerapkan

Langkah terakhir dalam daur ini adalah perencanaan untuk menerapkan prinsip-prinsip yang telah disimpulkan dari pengalaman sebelumnya. Proses pengalaman ini telah disimpulkan dari pengalaman sebelumnya. Proses pengalaman ini belumlah lengkap sebelum suatu ajaran baru atau penemuan baru dipergunakan dan diuji dalam perilaku sesungguhnya. Inilah bagian yang bersifat "eksperimental" dalam model ini.tentu saja, penerapan ini akan menjadi suatu pengalaman tersendiri pula dan dengan pengalaman baru tersebut, daur proses ini pun dimulai lagi.

Pengalaman berstruktur yang dirancang untuk memusatkan perhatian pada perilaku perorangan, umpan balik yang konstruktif, pengolahan dan integrasi psikologis, sangat beraneka ragam dan tidak tetap. Pengalaman berstruktur ini dengan mudah dapat disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus suatu kelompok, dengan tujuan rancangan pelatihan secara keseluruhan, atau dengan keterampilan-keterampilan khusus yang dimiliki oleh pemandu latihan pada dasarnya adalah seorang penemu "fasilitator". Karena seorang pemandu latihan pada dasarnya adalah seorang penemu (inventor), maka dapat diharapkan bahwa pengalaman berstruktur yang didapatkannya dari suatu sumber tertentu pasti akan disesuaikannya dengan keadaan tertentu pula dalam penerapannya.

Salah satu hal penting diperhatikan dalam penerapan pengalaman berstruktur ini adalah bahwa tahapan "pengolahan" selalu harus dilakukan sehingga para peserta dapat mengidentifikasikan dan menginteraksikan pengalaman belajarnya tersebut tanpa harus mengalami ketegangan justru karena adanya pengalaman-pengalaman yang tak terolah dan tidak menimbulkan pengertian sama sekali. Disinilah kemampuan sang fasilitator atau pemandu latihan menjadi suatu faktor yang sangat menentukan sekali. Jika pengalaman berstruktur diharapkan sebagai model yang tanggap terhadap kebutuhan para peserta warga belajar, maka fasilitator harus mampu membantu para peserta mengolah data yang timbul dari pengalaman tersebut. Jadi, dia harus memilih suatu kegiatan berdasarkan dua tolok ukur : kemampuan dirinya sendiri dan kebutuhan peserta warga belajar.


(dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar: