Salah satu hal penting dalam pedampingan masyarakat adalah membuat mereka mampu, yang salah satunya adalah mampu dalam mengambil keputusan secara mandiri. Berbagai alternatif pilihan yang ada memag tidak kemudian semuanya bisa dilaksanakan mengingat keterbatasan sumberdaya. Namun bagaimanapun juga masyarakat harus tetap memutuskan pilihan mana yang paling prioritas bagi mereka untuk bisa mereka pilih. Tugas pendamping adalah bagaimana bisa membantu masyarakat mengambil keputusan dengan cara-cara yang mudah, murah, cepat, sederhana, namun tetap dengan menggunakan prinsip partisipatif.
Beberapa metode tersebut dapat dilihat maupun diunduh di sini
Lihat
Unduh
Selamat mencoba,
Blog ini merupakan media informasi bagi para pecinta training untuk berbagi dan berperan bersama dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas insani secara menyeluruh
Tampilkan postingan dengan label Participatory Tools. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Participatory Tools. Tampilkan semua postingan
Jumat, November 22, 2013
Rabu, November 20, 2013
Modifikasi Jembatan Bambu
Salah satu participatory tools yang mudah, cepat, dan hasilnya cukup komprehensif, adalah dengan menggunakan jembatan bambu, namun dengan modifikasi secara visual. Adapun langkah-langkah sederhananya adalah berikut :
1. Minta peserta untuk menggambarkan secara visual (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi eksisting yang terjadi saat ini pada topik-topik tertentu sesuai dengan tema FGD, yang spesifik, seperti kondisi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, atau kondisi sanitasi lingkungan, atau kondisi home industri, dan sebagainya.
2. Setelah selesai, kembali minta kelompok untuk menggambarkan secara visual (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi yang akan diharapkan terjad.
3. Minta kelompok untuk menempelkan kedua gambar tadi pada ujung sisi kiri (untuk gambar kondisi eksisting) dan sisi kanan (untuk gambar kondisi yang diharapkan) dari tali rafia yang dibentang sepanjang 1,5 - 2 m yang kedua ujungnya diikatkan pada kursi atau apapun.
4. Minta kelompok untuk mendiskusikan berbagai tindakan yang harus dilakukan agar tercapai kondisi yang diharapkan ada di sisi kanan. Setiap satu tindakan dituliskan pada satu kertas metaplan. Minta mereka untuk menuliskan selengkap mungkin tindakan-tindakan yang harus dikerjakan.
5. Minta mereka untuk me-lem tulisan-tulisan metaplan tersebut dengan tali sepanjang 10 - 30 cm raffia.
6. Minta mereka untuk menggantungkan hasil 5 di atas pada tali raffia yang telah membentang sepanjang 1,5 - 2 m tersebut, dari sisi kiri (kondisi eksisting) ke sisi kanan (kondisi yang diharapkan) dengan urutan dari yang paling mudah ke yang paling sulit, atau dari yang paling murah ke yang paling mahal, atau dari yang paling cepat bisa dilakukan ke yang paling lama pelaksanaannya.
7. Terakhir minta mereka mencermati kembali hasilnya dan mendiskusikannya lagi, karena bisa jadi ada yang susunannya terbalik atau bahkan ternyata atau jenis kegiatan yang belum dituliskan di metaplan. Jangan lupa, buat tanda panah pada metaplan (sebanyak 1 atau 2 metaplan) dan tempelkan dengan lem pada bagian bentangan tali raffia sepanjang 1,5 - 2 m dengan arah panah menunjukkan dari kondisi eksisting ke kondisi yang diharapkan.
Selamat Mencoba, dan hasil visualisasi dari metode ini bisa dilihat atau diunduh di sini :
Lihat Unduh
Lihat lainnya Unduh
1. Minta peserta untuk menggambarkan secara visual (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi eksisting yang terjadi saat ini pada topik-topik tertentu sesuai dengan tema FGD, yang spesifik, seperti kondisi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, atau kondisi sanitasi lingkungan, atau kondisi home industri, dan sebagainya.
2. Setelah selesai, kembali minta kelompok untuk menggambarkan secara visual (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi yang akan diharapkan terjad.
3. Minta kelompok untuk menempelkan kedua gambar tadi pada ujung sisi kiri (untuk gambar kondisi eksisting) dan sisi kanan (untuk gambar kondisi yang diharapkan) dari tali rafia yang dibentang sepanjang 1,5 - 2 m yang kedua ujungnya diikatkan pada kursi atau apapun.
4. Minta kelompok untuk mendiskusikan berbagai tindakan yang harus dilakukan agar tercapai kondisi yang diharapkan ada di sisi kanan. Setiap satu tindakan dituliskan pada satu kertas metaplan. Minta mereka untuk menuliskan selengkap mungkin tindakan-tindakan yang harus dikerjakan.
5. Minta mereka untuk me-lem tulisan-tulisan metaplan tersebut dengan tali sepanjang 10 - 30 cm raffia.
6. Minta mereka untuk menggantungkan hasil 5 di atas pada tali raffia yang telah membentang sepanjang 1,5 - 2 m tersebut, dari sisi kiri (kondisi eksisting) ke sisi kanan (kondisi yang diharapkan) dengan urutan dari yang paling mudah ke yang paling sulit, atau dari yang paling murah ke yang paling mahal, atau dari yang paling cepat bisa dilakukan ke yang paling lama pelaksanaannya.
7. Terakhir minta mereka mencermati kembali hasilnya dan mendiskusikannya lagi, karena bisa jadi ada yang susunannya terbalik atau bahkan ternyata atau jenis kegiatan yang belum dituliskan di metaplan. Jangan lupa, buat tanda panah pada metaplan (sebanyak 1 atau 2 metaplan) dan tempelkan dengan lem pada bagian bentangan tali raffia sepanjang 1,5 - 2 m dengan arah panah menunjukkan dari kondisi eksisting ke kondisi yang diharapkan.
Selamat Mencoba, dan hasil visualisasi dari metode ini bisa dilihat atau diunduh di sini :
Lihat Unduh
Lihat lainnya Unduh
Senin, November 11, 2013
Beberapa Metode Perankingan secara Partisipatif
Salah satu hal penting dalam memfasilitasi masyarakat adalah bagaimana mereka mampu menentukan pilihannya sendiri berdasarkan argumen yang mereka kemukakan sendiri. Mereka lebih tahu kondisi mereka sendiri yang sebenarnya, jauh lebih baik dibadingkan dengan pendatang dan pendamping dari luar. Yang mereka butuhkan adalah bagaimana mereka bisa menggunakan cara yang mudah untuk mengambil keputusan. Alat / instrumen itu tentunya tidak hanya mudah, tapi juga cepat, akurat, dan yang paling penting adalah keputusan yang dihasilkan adalah keputusan bersama, bukan keputusan individu atau elit atau kelompok kecil tertentu.
Untuk itu bisa diunduh di bawah ini bagaimana beberapa metode perankingan bisa diaplikasikan dalam konteks pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dengan aspek utama adalah pengambilan keputusan secara partisipatif.
Silakan dilihat di sini
Silakan diunduh di sini
Untuk itu bisa diunduh di bawah ini bagaimana beberapa metode perankingan bisa diaplikasikan dalam konteks pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dengan aspek utama adalah pengambilan keputusan secara partisipatif.
Silakan dilihat di sini
Silakan diunduh di sini
Jumat, Agustus 10, 2012
PENDEKATAN S A R A R DALAM MEMFASILITASI FORUM
Beberapa sebab
utama yang selama ini menghambat partisipasi masyarakat dalam forum
L Malu atas
kehadiran penguasa wilayah setempat
L Takut berkata
terus terang di depan orang banyak
L Minder
L Tidak mempercayai
motive penyelenggara forum (bisa fasilitator, bisa penguasa wilayah setempat)
L Enggan
menanggung resiko
L Takut dipinggirkan
secara ekonomi ataupun sosial
L Takut dikritik
karena melampaui kelaziman di masyarakat
L Beda kelompok
dengan yang sebagian besar hadir di forum
L Terhinggapi
perasaan tidak berdaya atau pasrah dengan keadaan dan kondisi yang ada
L Tidak memiliki
pengalaman dalam bekerja / beraktivitas secara kelompok
L Tidak memiliki
keterampilan dalam perencanaan maupun pemecahan masalah.
Maka dalam
proses fasilitasi forum (baik forum pertemuan maupun forum pelatihan) perlu
menggunakan pendekatan pengembangan kapasitas peserta agar mereka lebih
mengeksplorasi, memilih, merencanakan, menentukan, mencipta, mengorganisir, dan
mengambil inisiatif. Secara sederhana
terangkum dalam pendekatan yang dinamakan S A R A R
YAITU :
S elf esteem (harga diri)
Martabat dan
harga diri kelompok maupun individu diakui dengan menekankan bahwa mereka
sebenarnya mempunyai kapasitas secara analitis dan kreatif untuk menyelesaikan
masalah mereka sendiri.
A ssociative Strength (kekuatan bersama)
Menekankan
bahwasanya jika mereka membentuk kelompok / asosiasi, mereka akan menjadi lebih
kuat dan mampu membangun kamampuan untuk bertindak secara bersama.
R esourcefulness (sumberdaya yang melimpah)
Setiap
individu adalah satu potensi sumberdaya bagi masyarakat. Menekankan untuk senantiasa mengembangkan
kreativitas dan sumberdaya yang melimpah baik di kelompok maupun individu dalam
memecahkan masalah.
A ction Planning
(rencana tindakan)
Adanya
rencana tindak untuk menyelesaikan masalah merupakan fokus dari pendekatan
SARAR ini. Perubahan hanya bisa
terjadi apabila kelompok membuat rencana dan melakukan tindakan-tindakan nyata.
R esponsibility (tanggung jawab)
Rasa taggung
jawab selanjutnya dijunjung oleh kelompok.
Berbagai tindakan yang telah direncanakan harus dilaksanakan. Hanya dengan partisipasi yang bertanggung
jawab-lah akan dicapai hasil yang bermakna.
(diolah
dari “Tools for Community Participation”, Lyra Srinivasan, UNDP)
PENDEKATAN S A R A R DALAM MEMFASILITASI FORUM
Beberapa sebab
utama yang selama ini menghambat partisipasi masyarakat dalam forum
L Malu atas
kehadiran penguasa wilayah setempat
L Takut berkata
terus terang di depan orang banyak
L Minder
L Tidak mempercayai
motive penyelenggara forum (bisa fasilitator, bisa penguasa wilayah setempat)
L Enggan
menanggung resiko
L Takut dipinggirkan
secara ekonomi ataupun sosial
L Takut dikritik
karena melampaui kelaziman di masyarakat
L Beda kelompok
dengan yang sebagian besar hadir di forum
L Terhinggapi
perasaan tidak berdaya atau pasrah dengan keadaan dan kondisi yang ada
L Tidak memiliki
pengalaman dalam bekerja / beraktivitas secara kelompok
L Tidak memiliki
keterampilan dalam perencanaan maupun pemecahan masalah.
Maka dalam
proses fasilitasi forum (baik forum pertemuan maupun forum pelatihan) perlu
menggunakan pendekatan pengembangan kapasitas peserta agar mereka lebih
mengeksplorasi, memilih, merencanakan, menentukan, mencipta, mengorganisir, dan
mengambil inisiatif. Secara sederhana
terangkum dalam pendekatan yang dinamakan S A R A R
YAITU :
S elf esteem (harga diri)
Martabat dan
harga diri kelompok maupun individu diakui dengan menekankan bahwa mereka
sebenarnya mempunyai kapasitas secara analitis dan kreatif untuk menyelesaikan
masalah mereka sendiri.
A ssociative Strength (kekuatan bersama)
Menekankan
bahwasanya jika mereka membentuk kelompok / asosiasi, mereka akan menjadi lebih
kuat dan mampu membangun kamampuan untuk bertindak secara bersama.
R esourcefulness (sumberdaya yang melimpah)
Setiap
individu adalah satu potensi sumberdaya bagi masyarakat. Menekankan untuk senantiasa mengembangkan
kreativitas dan sumberdaya yang melimpah baik di kelompok maupun individu dalam
memecahkan masalah.
A ction Planning
(rencana tindakan)
Adanya
rencana tindak untuk menyelesaikan masalah merupakan fokus dari pendekatan
SARAR ini. Perubahan hanya bisa
terjadi apabila kelompok membuat rencana dan melakukan tindakan-tindakan nyata.
R esponsibility (tanggung jawab)
Rasa taggung
jawab selanjutnya dijunjung oleh kelompok.
Berbagai tindakan yang telah direncanakan harus dilaksanakan. Hanya dengan partisipasi yang bertanggung
jawab-lah akan dicapai hasil yang bermakna.
(diolah
dari “Tools for Community Participation”, Lyra Srinivasan, UNDP)
PENGGUNAAN DIAGRAM VENN SECARA LEBIH MENDALAM
Pengantar
Diagram Venn selain
digunakan untuk memetakan lembaga-lembaga yang ada di masyarakat baik yang
bersifat formal maupun non formal, ditinjau dari sisi kemanfaatan /
kepentingannya yang dirasakan / dinilai oleh masyarakat serta hubungan
interaksinya dengan masyarakat. Namun
demikian dalam pengembangannya, instrumen ini bisa diperdalam penggunaannya
hingga melihat seberapa baik hubungan antar lembaga yang ada, hingga
individu-individu yang berpengaruh di masyarakat.
Langkah-langkah
J Minta kelompok
(apakah itu kelompok ibu-ibu, kelompok campuran, atau khusus kelompok
laki-laki, bisa pula berdasarkan usia, yaitu kelompok remaja, dewasa, dan
orang-orang tua), untuk menginventarisir lembaga-lembaga apa saja baik formal
maupun non formal yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan (bisa pula
topikal, seperti tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan)
masyarakat di desa / di kampung / di dusun itu.
Tuliskan di plano dan letakkan di lantai.
J Tuliskan
keseluruhan lembaga tersebut ke dalam lingkaran-lingkaran dan kemudian guntinglah
lingkaran-lingkaran tersebut.
J Berikutnya
identifikasi pula individu-individu yang mempunyai pengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan masyarakat (bisa pula topikal, seperti tingkat kesehatan, tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan) masyarakat di desa / di kampung / di dusun
itu. Tuliskan di plano dan letakkan di
lantai.
J Tuliskan
keseluruhan individu tersebut ke dalam segitiga-segitiga dan kemudian guntinglah
segitiga-segitiga tersebut.
J Letakkan kertas
plano di lantai (apabila dibutuhkan media yang lebih luas sambungkan 2 – 4
kertas plano dan bentangkan di lantai).
J Letakkan guntingan
lingkaran-lingkaran tersebut pada bentangan kertas plano di lantai sedemikian
rupa sehingga lingkaran-lingkaran yang selama ini menurut peserta mempunyai
hubungan yang erat satu sama lain, diletakkan berdekatan atau bahkan
bersinggungan (menurut tingkat hubungannya; semakin erat semakin dekat
tentunya). Jangan ditempel permanen
terlebih dahulu sebelum semua peserta menyatakan persetujuannya.
J Berikutnya
letakkan guntingan segitiga-segitiga sedemikian rupa sehingga segitiga yang
selama ini menurut partisipan mempunyai hubungan yang erat satu sama lain atau
yang mempunyai hubungan erat dengan lingkaran, diletakkan berdekatan atau
bahkan bersinggungan (menurut tingkat hubungannya; semakin erat semakin dekat
tentunya). Jangan ditempel permanen
terlebih dahulu sebelum semua peserta menyatakan persetujuannya.
J Dengan
menggunakan spidol warna biru, berikan garis hubung antar lingkaran, antar
segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta
hubungan kerjanya selama ini berjalan sangat-sangat baik.
J Berikutnya dengan
menggunakan spidol warna hijau, berikan garis hubung antar lingkaran, antar
segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta
hubungan kerjanya selama ini berjalan biasa-biasa saja.
J Kali ini dengan
menggunakan spidol warna merah, berikan garis hubung antar lingkaran, antar
segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta hubungan
kerjanya harus lebih diperbaiki ke depan.
J Dan terakhir
dengan menggunakan spidol warna hitam, berikan garis hubung antar lingkaran,
antar segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta
selama ini tidak terjadi hubungan / relasi sama sekali, namun dipandang sangat
penting dibangunnya relasi tersebut guna kepentingan peningkatan kesejahteraan
masyarakat ke depan.
J Fokuskan pada
garis hubung warna merah dan garis hubung warna hitam. Ajak peserta untuk berdiskusi agar
garis-garis tersebut pada akhirnya akan menjadi garis hubung berwarna
biru. Apa saja yang harus dilakukan, dan
pihak-pihak mana saja yang harus berperan di dalamnya untuk mewujudkan garis
biru ini terjadi.
Selasa, Juli 24, 2012
ANALISIS STAKEHOLDER
Mengapa penting dilakukan
analisis stakeholder ini ?
·
Untuk mengidentifikasi minat, kepentingan, dan
pengaruh para stakeholder terhadap kegiatan program / proyek yang sedang
berjalan.
·
Untuk mengidentifikasi kelembagaan-kelembagaan lokal
berikut proses-proses untuk pengembangan kapasitasnya
·
Untuk membangun pondasi dan strategi partisipasi
masyarakat.
Analisis stakeholder ini
merupakan instrumen yang sangat penting untuk memahami konteks sosial dan
kelembagaan dari satu kegiatan program / proyek. Hal-hal yang diungkap dari tools ini bisa
memberikan informasi sangat penting seawal mungkin tentang :
i.
siapa saja yang akan dipengaruhi oleh program / proyek
baik positif ataupun negatif;
ii.
siapa saja yang mungkin memberikan pengaruh terhadap
program / proyek baik positif ataupun negatif;
iii.
individu, kelompok, dan lembaga apa saja yang perlu
dilibatkan dalam program / proyek serta bagaimana caranya; dan siapa saja yang
perlu dibangun kapasitasnya agar turut berpartisipasi aktif di dalamnya.
Definisi stakeholder :
Adalah orang-orang, atau
kelompok-kelompok, atau lembaga-lembaga yang kemungkinan besar terkena pengaruh
dari satu kegiatan program / proyek baik pengaruh itu positif maupun negatif,
atau sebaliknya yang mungkin memberikan pengaruh terhadap hasil keluaran
program / proyek.
Langkah-langkah
melakukan analisis stakeholder
Langkah I,
identifikasilah stakeholder-stakeholder kunci antara lain :
1)
Siapa saja penerima manfaat yang potensial dari
kegiatan ini ?
2)
Siapa saja yang mungkin menerima dampak buruk dari
kegiatan ini ?
3)
Apakah kelompok-kelompok yang rentan telah
diidentifikasi ? Siapa saja ?
4)
Apakah kelompok-kelompok pendukung dan
kelompok-kelompok lawan juga telah diidentifikasi ? Siapa saja ?
5)
Apa saja hubungan-hubungan yang terjadi di antara
stakeholder-stakeholder tersebut ?
Langkah II, lakukan
assessment terhadap kepentingan-kepentingan para stakeholder dan dampak-dampak
potensial yang muncul dari kepentingan-kepentingan ini :
1)
Apa saja harapan-harapan yang muncul dari para
stakeholder terhadap program / proyek ini ?
2)
Keuntungan-keuntungan / manfaat-manfaat apa saja yang
mungkin akan diperoleh para stakeholder ?
3)
Sumberdaya-sumberdaya apa saja yang bisa atau bahkan
mungkin sangat ingin dimobilisasi oleh para stakeholeder ?
4)
Apa saja kepentingan-kepentingan para stakeholder yang
berlawanan dengan tujuan-tujuan program / proyek ?
Langkah III, lakukan
assessment terhadap pengaruh dan kepentingan para stakeholder ini :
Untuk setiap kelompok
stakeholder lakukan lakukan assessment terhadap ;
1)
Kekuasaan dan statusnya (politik, sosial, dan ekonomi)
2)
Derajat / level lembaga / organisasinya
3)
Penguasaan terhadap sumber-sumber daya yang strategis
4)
Pengaruh-pengaruh informal (seperti hubungan-hubungan
personal)
5)
Relasi kekuasaan dengan stakeholder lainnya
6)
Arti penting terhadap keberhasilan program / proyek
Terdapat dua hal penting
di sini, yaitu stakeholder yang mempunyai pengaruh (influence)
dan stakeholder yang sangat berkepentingan / mempunyai arti penting (importance).
C Pengaruh/influence
lebih menunjukkan tingkat kekuasaan yang dimiliki stakeholder terhadap jalannya
program / proyek. Hal ini dapat diuji
melalui cara-cara pengendalian dan penguasaan mereka terhadap proses-proses pengambilan
keputusan baik secara langsung maupun melalui penguasaan terhadap jalannya
program / proyek atau sebaliknya melalui perintangan terhadap jalannya program
/ proyek. Penguasaan ini bisa berasal
dari status atau kekuasaan yang memang dimiliki, ataupun melalui hubungan
informal dengan pemimpin-pemimpin formal yang dia miliki selama ini.
C Kepentingan/importance
berkaitan dengan tingkatan di mana pencapaian tujuan program / proyek sangat
tergantung pada keterlibatan aktif yang diberikan oleh kelompok stakeholder
bersangkutan. Stakeholder yang
berkepentingan terhadap program / proyek pada umumnya adalah yang
kebutuhan-kebutuhannya bersesuaian dengan tujuan program / proyek. Beberapa kelompok stakeholder mungkin sangat
penting/importance terhadap satu program / proyek (seperti
: kelompok perempuan perdesaan pada program kesehatan reproduksi), namun boleh
jadi pengaruhnya/influence sangat-sangat terbatas terhadap
program / proyek. Kelompok stakeholder
ini membutuhkan upaya-upaya khusus untuk lebih meningkatkan partisipasi mereka
serta lebih meyakinkan mereka bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka sungguh-sungguh
sejalan dengan program / proyek.
Baik pengaruh / influence
maupun kepentingan / importance dari berbagai stakeholder ini bisa diranking
dengan skala sederhana dan dipetakan satu sama lainny, sebagai langkah awal
untuk menentukan strategi yang cocok bagi pelibatan mereka. Kedua variabel utama ini juga bisa dilakukan
assessment di tahap-tahap awal berdasarkan pengetahuan/informasi yang dimiliki
oleh pihak-pihak yang sangat mengenal “kepedulian” para stakeholder tersebut
terhadap program / proyek. Namun
demikian, assessment yang lebih mendalam perlu dilakukan melalui
wawancara-wawancara secara langsung (diperlukan keterampilan bertanya).
Langkah IV, buatlah
satu kerangka untuk menentukan strategi pelibatan stakeholder :
Rencana pelibatan
stakeholder ini didasarkan pada :
1)
Ketertarikan, pengaruh, dan kepentingan dari setiap
kelompok stakeholder
2)
Upaya-upaya khusus yang diperlukan untuk melibatkan stakeholder-stakeholder
yang penting / yang bekepentingan namun tidak mempunyai pengaruh.
3)
Bentuk-bentuk partisipasi yang memadai pada
keseluruhan siklus program / proyek.
Berdasarkan hasil tiga
tahap analisis stakeholder di atas, maka beberapa rencana pendahuluan dapat
disusun untuk melibatkan kelompok-kelompok stakeholder tersebut dalam
tahapan-tahapan program / proyek secara berurutan.
J Stakeholder yang
mempunyai daya pengaruh tinggi dan kepentingan yang tinggi pula, harus bisa
dilibatkan sepenuhnya di seluruh tahapan program / proyek demi untuk memberikan
keyakinan pada mereka bahwa keberhasilan program / proyek adalah atas dukungan
mereka.
J Stakeholder yang
mempunyai daya pengaruh tinggi namun tidak terlalu berkepentingan, bukanlah
target utama program / proyek, namun sangat mungkin menjadi penentang / opposan
atau minimal selalu mengintervensi. Dari
sini, mereka perlu mendapatkan perlakuan bahwa keberadaan mereka itu adalah
penting, selalu berikan pada mereka informasi-informasi, dan berikan pengakuan
terhadap pandangan-pandangan mereka, hal ini perlu dilakukan agar tidak timbul
keonaran dan konflik terbuka.
J Stakeholder
dengan pengaruh yang kecil namun kepentingan / arti penting terhadap proyek
yang sangat tinggi membutuhkan upaya-upaya khusus dan strategi-strategi khusus,
agar mereka menjadi yakin bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka sejalan dengan
tujuan program / proyek dan keterlibatkan mereka sungguh-sungguh sangat
bermakna.
J Stakeholder
dengan pengaruh dan kepentingan yang kecil atau bahkan tidak sama sekali, mau
tidak mau juga perlu dilibatkan dalam program / proyek namun tidak memerlukan
statregi partisipasi / pelibatan mereka secara sangat khusus.
Sumber : Participation
and Social Assessment, Tools and Techniques,
compiled by Jennifer
Rietbergen-McCracken, Deepa Narayan, IBRD-WB, 1998
Penggalian Gagasan di Kelompok Perempuan dengan Modifikasi Metode Jembatan Bambu
Penggalian Gagasan di Kelompok Perempuan dengan Modifikasi Metode Jembatan Bambu
Berikut ini adalah langkah-langkah yang digunakan untuk memfasilitasi masyarakat khususnya pada forum-forum FGD di kelompok-kelompok perempuan untuk menghasilkan usulan-usulan yang lebih variatif dan benar-benar memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat miskin. Karena forum FGD ini diikuti oleh warga dengan jumlah tidak terlalu banyak, maka bisa dilakukan secara pleno, atau apabila dirasakan perlu ada pembagian kelompok, lakukan dalam kelompok-kelompok kecil (3 - 4 orang saja per kelompok). Fasilitasilah mereka untuk membahas secara detail topik-topik bahasan di bawah ini (cukup satu kegiatan FGD membahas 1 topik saja) :
Langkah I : gambaran kondisi saat ini
1. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi kesehatan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
2. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi kesehatan ibu dan anak yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
3. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi pendidikan dasar dan menengah yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
4. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi yang dialami oleh kaum perempuan yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya kaum perempuan yang ada di kalangan masyarakat miskin.
Langkah II : gambaran kondisi ke depan yang diharapkan
a) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kesehatan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
b) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kesehatan ibu dan anak yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
c) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang pendidikan dasar dan menengah yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
d) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kaum perempuan yang ada di sekitar masyarakat, khususnya kaum perempuan di kalangan masyarakat miskin.
Langkah III : inventarisir langkah-langkah kegiatan
i. Meletakkan gambar kondisi awal di sebelah kiri mereka dan gambar kondisi yang diharapkan di sebelah kanan mereka, buatlah jaraknya agak berjauhan (sekitar 1 m), dan hubungkan kedua gambar tersebut dengan garis hubung yang tebal.
ii. Menginventarisir seluruh langkah-langkah apa saja yang harus diambil untuk mewujudkan kondis ke arah gambaran yang mereka harapkan tersebut. Kali ini gunakan metaplan, satu langkah satu tulisan di metaplan. iii. Meletakkan tulisan-tulisan di metaplan tersebut di sepanjang garis hubung. Letakkan secara berurutan berdasarkan urutan logisnya, dan berilah angka yang berurutan di setiap metaplan yang dipasang. Langkah IV : menyusun rencana aksi Letakkan metaplan-metaplan yang telah dituliskan tersebut di bagan rencana berikut :
a. Urutan langkah-langkah kegiatan*
b. Sumber daya yang dimiliki yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan
c. Dukungan apa saja yang dibutuhkan dari pihak lain
d Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan bersangkutan
*sangat memungkinkan apabila dirasakan masih perlu disisipkan langkah-langkah lain yang belum terinventarisir di proses sebelumnya.
Langkah I : gambaran kondisi saat ini
1. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi kesehatan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
2. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi kesehatan ibu dan anak yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
3. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi pendidikan dasar dan menengah yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya masyarakat miskin.
4. membuat gambar di setengah potongan kertas plano, yang menunjukkan kondisi yang dialami oleh kaum perempuan yang ada di sekitar masyarakat Anda, khususnya kaum perempuan yang ada di kalangan masyarakat miskin.
Langkah II : gambaran kondisi ke depan yang diharapkan
a) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kesehatan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
b) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kesehatan ibu dan anak yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
c) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang pendidikan dasar dan menengah yang ada di sekitar masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
d) membuat gambar kondisi yang diharapkan ke depan tentang kaum perempuan yang ada di sekitar masyarakat, khususnya kaum perempuan di kalangan masyarakat miskin.
Langkah III : inventarisir langkah-langkah kegiatan
i. Meletakkan gambar kondisi awal di sebelah kiri mereka dan gambar kondisi yang diharapkan di sebelah kanan mereka, buatlah jaraknya agak berjauhan (sekitar 1 m), dan hubungkan kedua gambar tersebut dengan garis hubung yang tebal.
ii. Menginventarisir seluruh langkah-langkah apa saja yang harus diambil untuk mewujudkan kondis ke arah gambaran yang mereka harapkan tersebut. Kali ini gunakan metaplan, satu langkah satu tulisan di metaplan. iii. Meletakkan tulisan-tulisan di metaplan tersebut di sepanjang garis hubung. Letakkan secara berurutan berdasarkan urutan logisnya, dan berilah angka yang berurutan di setiap metaplan yang dipasang. Langkah IV : menyusun rencana aksi Letakkan metaplan-metaplan yang telah dituliskan tersebut di bagan rencana berikut :
a. Urutan langkah-langkah kegiatan*
b. Sumber daya yang dimiliki yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan
c. Dukungan apa saja yang dibutuhkan dari pihak lain
d Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan bersangkutan
*sangat memungkinkan apabila dirasakan masih perlu disisipkan langkah-langkah lain yang belum terinventarisir di proses sebelumnya.
Selasa, Desember 20, 2011
Teknik Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan secara Partisipatif
1. Buat peta wilayah setempat (peta sosial) yang menggambarkan kondisi setempat secara umum (topografi, prasarana dasar, fungsi lahan; pemukiman, pertanian, perkebunan, hutan, ladang,), serta noktah-noktah yang menunjukkan rumah-rumah tangga.
2. Berilah nomor pada setiap noktah rumah-rumah tangga tersebut.
3. Pindahkan setiap nomor rumah-rumah tangga ke dalam kartu ukuran 9 cm x 5 cm atau seukuran kartu nama, setiap nomor rumah tangga, satu kartu.
4. Tanyakan pada peserta terhadap identitas yang lengkap pemilik setiap nomor kartu tersebut, dan tuliskan informasi dari para informan tersebut di tabel pada kertas plano (susunan portrait), seperti :
· No rumah tangga
· Nama kepala rumah tangga
· Jumlah anggota rumah tangga
· Apa saja sumber-sumber pendapatan rumah tangga tersebut
Setelah selesai seluruhnya, tempelkan di dinding atau letakkan di lantai agar bisa dilihat oleh seluruh peserta. 5. Tanyakan pada peserta klasifikasi kesejahteraan apa saja yang sangat familiar di wilayah tersebut dengan bahasa lokal / setempat, apakah kaya (sugih), sedang (sedengan), miskin (mlarat), atau klasifikasi yang lain.
6. Buat tabel secara landscape pada kertas plano terhadap klasifikasi yang mereka tetapkan (misalkan ada 4 klasifikasi, maka buatlah 4 kolom, 5 dengan kolom nomor).
7. Bagilah peserta dalam 3 kelompok. Berilah masing-masing kelompok satu tabel pada point 6 di atas.
8. Minta mereka untuk berdiskusi untuk mengisikan pada tabel di masing-masing kelompok nomor-nomor rumah-rumah tangga sesuai dengan klasifikasi tingkat kesejahteraan yang tercantum pada tabel.
9. Setelah itu tempelkan hasil pengklasifikasian masing-masing kelompok. Sangat mungkin terjadi perbedaan peletakan nomor rumah tangga pada klasifikasi yang berbeda pula. Misalkan 2 kelompok menempatkan no 5 pada "sedengan", sedangkan 1 kelompok menempatkan pada klasifikasi "mlarat".
00. Minta 1 kelompok tersebut untuk menunjukkan alasan mengapa mereka mengklasifikasikan "melarat" yang mungkin hal tersebut tidak diketahui oleh 2 kelompok yang lainnya.
11. Apabila alasan tersebut dapat diterima oleh 2 kelompok lainnya, maka putuskan untuk menggunakan klasifikasi "melarat" tersebut. Apabila tidak bisa diterima dan 2 kelompok lain mengajukan alasan yang berbeda, maka klasifikasi ditetapkan berdasarkan suara kelompok terbanyak.
12. Pindahkan hasil akhir di tabel lain yang merupakan hasil kesepakatan pengklasifikasian ketiga kelompok.
(diolah dari "A Trainer's Guide for Participatory Learning and Action")
Langganan:
Postingan (Atom)