Jumat, Juni 20, 2014

Teknis Perencanaan Pembangunan Desa

Undang-undang Desa yang telah dilaunching di awal tahun 2014 ini tampaknya akan mengubah konstelasi para pelaku di desa, di kecamatan, di kabupaten, bahkan di pusat untuk lebih melihat desa sebagai lokus dan fokus pembangunan, pemberdayaan masyarakat, serta reformasi birokrasi di level yang paling bawah.

Salah satu aspek paling penting dalam implementasi UU Desa ini adalah lebih diperkuatnya aspek-aspek perencanaan pembangunan desa yang lebih integratif, sinergi, serta holistik dengan mengedepankan aspek-aspek keberpihakan pada masyarakat miskin, gender, maupun aspek-aspek keterpaduan dengan kepentingan banyak pihak baik di dalam desa sendiri, maupun di luar desa.

Untuk itu kiranya panduan teknis ini dapat membantu untuk lebih memperkuat posisi desa dalam menyusun perencanaan pembangunan desa khususnya perencanaan tahunan yang dikenal dengan nama dokumen RKP-Desa (Rencana Kerja Pemerintah Desa).  Tentunya pelatihan teknis harus diberikan kepada tim perumus di desa agar kapasitas mereka semakin meningkat dari tahun ke tahun dalam penguasaan teknik perencanaan pembangunan dengan pendekatan yang partisipatif.

Berikut ini disediakan seperangkat tools untuk mempermudah proses perencanaan pembangunan desa, khususnya dengan pendekatan partisipatif dan bottom up planning.  Untuk lebih detailnya bisa diunduh di sini :










Seri Refleksi Ramadhan - 2

Sya'ban telah hampir mendekati ujung akhir di tahun 1435 H ini, sedikit lagi Ramadhan Al-Mubarak, bulan yang dirindu-rindukan akan hadir.  Marilah kita sambut tamu agung ini dengan penuh kerelaan, dengan penuh rasa haru, karena ia datang membawa berbagai hadiah tiada tara, ia datang dengan membawa banyak kebaikan yang ditunggu-tunggu para tuan rumahnya.  Marilah kita menjadi tuan rumah yang sangat baik terhadap tamu agung yang luar biasa baiknya ini.

Saatnya tiba untuk melakukan refleksi, salah satu metode pencerminan diri sendiri, menilai diri sendiri.  Selama 11 bulan berlalu kita melakukan aksi, saatnya tiba sebulan saja kita lakukan refleksi.  Mudah-mudahan Seri Refleksi Ramadhan ini membantu proses refleksi kita untuk menghasilkan sebuah output yang signifikan bagi aksi-aksi kita berikutnya.

Seri Refleksi - 2

Salah satu bentuk moral tertinggi yang dimiliki oleh seorang Muttaqin yang meneladani Nabinya SAW dan akhlak Al-Qur’an adalah kemampuan menahan marah di saat ia berkuasa untuk menumpahkan amarahnya dan kesanggupan untuk memberikan kemaafan di saat ia mampu melakukan pembalasan.  Bahkan sebaliknya, mereka justru memperlakukan orang yang menyakiti mereka dengan kebaikan-kebaikan.


Untuk refleksi kali ke dua ini silakan :


Lihat di  S I N I

Atau unduh di   S I N I




Seri Refleksi Ramadhan - 1

Sya'ban telah hampir mendekati ujung akhir di tahun 1435 H ini, sedikit lagi Ramadhan Al-Mubarak, bulan yang dirindu-rindukan akan hadir.  Marilah kita sambut tamu agung ini dengan penuh kerelaan, dengan penuh rasa haru, karena ia datang membawa berbagai hadiah tiada tara, ia datang dengan membawa banyak kebaikan yang ditunggu-tunggu para tuan rumahnya.  Marilah kita menjadi tuan rumah yang sangat baik terhadap tamu agung yang luar biasa baiknya ini.

Saatnya tiba untuk melakukan refleksi, salah satu metode pencerminan diri sendiri, menilai diri sendiri.  Selama 11 bulan berlalu kita melakukan aksi, saatnya tiba sebulan saja kita lakukan refleksi.  Mudah-mudahan Seri Refleksi Ramadhan ini membantu proses refleksi kita untuk menghasilkan sebuah output yang signifikan bagi aksi-aksi kita berikutnya.

Seri Refleksi 1

Kaum muslimin pastilah selalu berharap untuk bisa mendapatkan surga.  Semua kita berharap akan hal ini, dengan cara yang semudah-mudahnya, dan kalau perlu tanpa perhitungan, atau kalaupun ada perhitungan di hari kiamat kelak, Allah akan melakukannya dengan perhitungan yang cepat dan mudah.  Namun sebaliknya, apakah upaya yang kita lakukan selama ini telah sebanding dengan besarnya tujuan utama hidup yang dicita-citakan ini ?

Untuk melakukan refleksi diri selanjutnya bisa 

dilihat di sini   LIHAT                                 

atau diunduh di sini  UNDUH



Rabu, Maret 05, 2014

FASILITASI PERENCANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KAPASITAS USAHA EKONOMI BAGI KELOMPOK USAHA

Pendampingan kelompok merupakan salah satu aktivitas utama bagi para pendamping / fasilitator di dunia pemberdayaan masyarakat.  Kelompok ternyata tidak bisa dipandang hanya kumpulan orang saja yang berhimpun untuk mencapai tujuan bersama.  Namun di balik itu kelompok ternyata sangat dinamis, karena di dalamnya terdapat mekanisme-mekanisme organisasi, pengambilan keputusan, perencanaan, maupun aspek legitimas dan legalitas.

Salah satu jenis kelompok strategis adalah kelompok usaha, di mana dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau kelompok ini didalamnya berhimpun orang-orang yang mempunyai usaha yang sama tentunya. Kelompok usaha ini sangat strategis dari sisi pandang pemberdayaan masyarakat, karena melalui instrumen inilah penguatan kapasitas dalam konteks usahanya bila dilakukan dengan tepat akan mampu meningkatkan bergaining kelompok terhadap produksi dan pasar, yang pada akhirnya diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

Salah satunya adalah bagaimana menginisiasi pembentukan dan pengorganisasian kelompok usaha ini, secara sangat sederhana disajikan dalam instrumen ringkas di bawah ini :

Lihat

Unduh

Selamat mencoba instrumen sederhana ini, semoga suksess dan selamat berbagi pengalaman

Jumat, Januari 17, 2014

Beberapa Tips Fasilitasi

Menghadapi kelas pelatihan atau forum apapun di mana seorang Fasilitator harus memandu, mengarahkan, menggerakkan, memotivasi, dan seterusnya sehingga menjadi forum atau kelas yang produktif, interaktif, partisipatif, dan termotivasi, maka tentunya dibutuhkan sejumlah keterampilan dasar untuk memfasilitasi. Berikut ini adalah beberapa bacaan dasar dan ringkas untuk mendukung proses fasilitasi di kelas pelatihan ataupun forum lainnya secara umum bisa berjalan dengan lancar :

Unduh 1
Unduh 2
Unduh 3
Unduh 4
Unduh 5 

Andragogy

Andragogy atau pendidikan orang dewasa adalah salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran yang memberikan banyak ruang dan waktu bagi peserta belajar untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi topik yang sedang dibahas melalui experimental learning.

Nah tentunya pendekatan ini telah didukung oleh sejumlah research ilmiah dari para penggagasnya.

Beberapa bacaan dasar untuk bisa dipelajari dan memancing untuk lebih diperdalam lagi dapat diunduh atau dibaca di sini :

unduh 1
unduh 2
unduh 3
unduh 4
unduh 5
unduh 6

Demikian, semoga bermanfaat, dan membantu


Minggu, Desember 15, 2013

Proses Lokakarya Tahunan Perencanaa Pembangunan Desa

Salah satu rangkaian siklus tahunan perencanaan pembangunan desa adalah kegiatan lokakarya tahunan perencanaan pembangunan desa.  Kegiatan ini termasuk kegiatan yang sangat penting, mengingat di sinilah dibahas berbagai kebutuhan perencanaan pembangunan skala desa maupun skala supra-desa.  Para pihak yang terlibat pun akan sangat menentukan seberapa baik kualitas draft akhir dokumen RKP-Des yang akan dihasilkan.

Dari forum inilah akan dihasilkan draft akhir dokumen RKP-Des yang selanjutnya akan dibawa di forum tahunan Musrenbang-Desa, sehingga ada satu forum sisipan sebelum Musrenbang-Desa ini, yang diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas Musrenbang-Desa itu sendiri, dan pada akhirnya pada kualitas dokumen RKP-Des itu sendiri.

Bagaimana proses dan sistematika hasilnya dapat secara ringkas dilihat atau diunduh di bawah ini


Jumat, November 22, 2013

Beberapa Metode Perankingan secara Partisipatif

Salah satu hal penting dalam pedampingan masyarakat adalah membuat mereka mampu, yang salah satunya adalah mampu dalam mengambil keputusan secara mandiri.  Berbagai alternatif pilihan yang ada memag tidak kemudian semuanya bisa dilaksanakan mengingat keterbatasan sumberdaya.  Namun bagaimanapun juga masyarakat harus tetap memutuskan pilihan mana yang paling prioritas bagi mereka untuk bisa mereka pilih.  Tugas pendamping adalah bagaimana bisa membantu masyarakat mengambil keputusan dengan cara-cara yang mudah, murah, cepat, sederhana, namun tetap dengan menggunakan prinsip partisipatif.

Beberapa metode tersebut dapat dilihat maupun diunduh di sini

Lihat

Unduh

Selamat mencoba,

Rabu, November 20, 2013

Modifikasi Jembatan Bambu

Salah satu participatory tools yang mudah, cepat, dan hasilnya cukup komprehensif, adalah dengan menggunakan jembatan bambu, namun dengan modifikasi secara visual.  Adapun langkah-langkah sederhananya adalah berikut :

1.  Minta peserta untuk menggambarkan secara visual (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi eksisting yang terjadi saat ini pada topik-topik tertentu sesuai dengan tema FGD, yang spesifik, seperti kondisi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, atau kondisi sanitasi lingkungan, atau kondisi home industri, dan sebagainya.

2.  Setelah selesai, kembali minta kelompok untuk menggambarkan secara visual  (dengan menggunakan pinsil warna, krayon, atau spidol warna) pada selembar kertas ukuran 2 x A4 atau 1/4 kertas plano, kondisi yang akan diharapkan terjad.

3.  Minta kelompok untuk menempelkan kedua gambar tadi pada ujung sisi kiri (untuk gambar kondisi eksisting) dan sisi kanan (untuk gambar kondisi yang diharapkan) dari tali rafia yang dibentang sepanjang 1,5 - 2 m yang kedua ujungnya diikatkan pada kursi atau apapun.

4.  Minta kelompok untuk mendiskusikan berbagai tindakan yang harus dilakukan agar tercapai kondisi yang diharapkan ada di sisi kanan.  Setiap satu tindakan dituliskan pada satu kertas metaplan.  Minta mereka untuk menuliskan selengkap mungkin tindakan-tindakan yang harus dikerjakan.

5.  Minta mereka untuk me-lem tulisan-tulisan metaplan tersebut dengan tali sepanjang 10 - 30 cm raffia.

6.  Minta mereka untuk menggantungkan hasil 5 di atas pada tali raffia yang telah membentang sepanjang 1,5 - 2 m tersebut, dari sisi kiri (kondisi eksisting) ke sisi kanan (kondisi yang diharapkan) dengan urutan dari yang paling mudah ke yang paling sulit, atau dari yang paling murah ke yang paling mahal, atau dari yang paling cepat bisa dilakukan ke yang paling lama pelaksanaannya.

7.  Terakhir minta mereka mencermati kembali hasilnya dan mendiskusikannya lagi, karena bisa jadi ada yang susunannya terbalik atau bahkan ternyata atau jenis kegiatan yang belum dituliskan di metaplan.  Jangan lupa, buat tanda panah pada metaplan (sebanyak 1 atau 2 metaplan) dan tempelkan dengan lem pada bagian bentangan tali raffia sepanjang 1,5 - 2 m dengan arah panah menunjukkan dari kondisi eksisting ke kondisi yang diharapkan.

Selamat Mencoba, dan hasil visualisasi dari metode ini bisa dilihat atau diunduh di sini :

Lihat              Unduh

Lihat lainnya   Unduh

    

Senin, November 11, 2013

Beberapa Metode Perankingan secara Partisipatif

Salah satu hal penting dalam memfasilitasi masyarakat adalah bagaimana mereka mampu menentukan pilihannya sendiri berdasarkan argumen yang mereka kemukakan sendiri.  Mereka lebih tahu kondisi mereka sendiri yang sebenarnya, jauh lebih baik dibadingkan dengan pendatang dan pendamping dari luar.  Yang mereka butuhkan adalah bagaimana mereka bisa menggunakan cara yang mudah untuk mengambil keputusan.  Alat / instrumen itu tentunya tidak hanya mudah, tapi juga cepat, akurat, dan yang paling penting adalah keputusan yang dihasilkan adalah keputusan bersama, bukan keputusan individu atau elit atau kelompok kecil tertentu.

Untuk itu bisa diunduh di bawah ini bagaimana beberapa metode perankingan bisa diaplikasikan dalam konteks pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dengan aspek utama adalah pengambilan keputusan secara partisipatif.

Silakan dilihat di sini

Silakan diunduh di sini

Jumat, Agustus 10, 2012

PENDEKATAN S A R A R DALAM MEMFASILITASI FORUM

Beberapa sebab utama yang selama ini menghambat partisipasi masyarakat dalam forum
L  Malu atas kehadiran penguasa wilayah setempat
L  Takut berkata terus terang di depan orang banyak
L  Minder
L  Tidak mempercayai motive penyelenggara forum (bisa fasilitator, bisa penguasa wilayah setempat)
L  Enggan menanggung resiko
L  Takut dipinggirkan secara ekonomi ataupun sosial
L  Takut dikritik karena melampaui kelaziman di masyarakat
L  Beda kelompok dengan yang sebagian besar hadir di forum
L  Terhinggapi perasaan tidak berdaya atau pasrah dengan keadaan dan kondisi yang ada
L  Tidak memiliki pengalaman dalam bekerja / beraktivitas secara kelompok
L  Tidak memiliki keterampilan dalam perencanaan maupun pemecahan masalah.
Maka dalam proses fasilitasi forum (baik forum pertemuan maupun forum pelatihan) perlu menggunakan pendekatan pengembangan kapasitas peserta agar mereka lebih mengeksplorasi, memilih, merencanakan, menentukan, mencipta, mengorganisir, dan mengambil inisiatif.  Secara sederhana terangkum dalam pendekatan yang dinamakan                                                                          S A R A R  YAITU :
S  elf esteem (harga diri)
Martabat dan harga diri kelompok maupun individu diakui dengan menekankan bahwa mereka sebenarnya mempunyai kapasitas secara analitis dan kreatif untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
A  ssociative Strength (kekuatan bersama)
Menekankan bahwasanya jika mereka membentuk kelompok / asosiasi, mereka akan menjadi lebih kuat dan mampu membangun kamampuan untuk bertindak secara bersama.
R  esourcefulness (sumberdaya yang melimpah)
Setiap individu adalah satu potensi sumberdaya bagi masyarakat.  Menekankan untuk senantiasa mengembangkan kreativitas dan sumberdaya yang melimpah baik di kelompok maupun individu dalam memecahkan masalah.
A  ction Planning (rencana tindakan)
Adanya rencana tindak untuk menyelesaikan masalah merupakan fokus dari pendekatan SARAR ini.  Perubahan hanya bisa terjadi apabila kelompok membuat rencana dan melakukan tindakan-tindakan nyata.
R  esponsibility (tanggung jawab)
Rasa taggung jawab selanjutnya dijunjung oleh kelompok.  Berbagai tindakan yang telah direncanakan harus dilaksanakan.  Hanya dengan partisipasi yang bertanggung jawab-lah akan dicapai hasil yang bermakna. 

(diolah dari “Tools for Community Participation”, Lyra Srinivasan, UNDP)


PENDEKATAN S A R A R DALAM MEMFASILITASI FORUM

Beberapa sebab utama yang selama ini menghambat partisipasi masyarakat dalam forum
L  Malu atas kehadiran penguasa wilayah setempat
L  Takut berkata terus terang di depan orang banyak
L  Minder
L  Tidak mempercayai motive penyelenggara forum (bisa fasilitator, bisa penguasa wilayah setempat)
L  Enggan menanggung resiko
L  Takut dipinggirkan secara ekonomi ataupun sosial
L  Takut dikritik karena melampaui kelaziman di masyarakat
L  Beda kelompok dengan yang sebagian besar hadir di forum
L  Terhinggapi perasaan tidak berdaya atau pasrah dengan keadaan dan kondisi yang ada
L  Tidak memiliki pengalaman dalam bekerja / beraktivitas secara kelompok
L  Tidak memiliki keterampilan dalam perencanaan maupun pemecahan masalah.
Maka dalam proses fasilitasi forum (baik forum pertemuan maupun forum pelatihan) perlu menggunakan pendekatan pengembangan kapasitas peserta agar mereka lebih mengeksplorasi, memilih, merencanakan, menentukan, mencipta, mengorganisir, dan mengambil inisiatif.  Secara sederhana terangkum dalam pendekatan yang dinamakan                                                                                                                      S A R A R  YAITU :
S  elf esteem (harga diri)
Martabat dan harga diri kelompok maupun individu diakui dengan menekankan bahwa mereka sebenarnya mempunyai kapasitas secara analitis dan kreatif untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
A  ssociative Strength (kekuatan bersama)
Menekankan bahwasanya jika mereka membentuk kelompok / asosiasi, mereka akan menjadi lebih kuat dan mampu membangun kamampuan untuk bertindak secara bersama.
R  esourcefulness (sumberdaya yang melimpah)
Setiap individu adalah satu potensi sumberdaya bagi masyarakat.  Menekankan untuk senantiasa mengembangkan kreativitas dan sumberdaya yang melimpah baik di kelompok maupun individu dalam memecahkan masalah.
A  ction Planning (rencana tindakan)
Adanya rencana tindak untuk menyelesaikan masalah merupakan fokus dari pendekatan SARAR ini.  Perubahan hanya bisa terjadi apabila kelompok membuat rencana dan melakukan tindakan-tindakan nyata.
R  esponsibility (tanggung jawab)
Rasa taggung jawab selanjutnya dijunjung oleh kelompok.  Berbagai tindakan yang telah direncanakan harus dilaksanakan.  Hanya dengan partisipasi yang bertanggung jawab-lah akan dicapai hasil yang bermakna. 

(diolah dari “Tools for Community Participation”, Lyra Srinivasan, UNDP)


PENGGUNAAN DIAGRAM VENN SECARA LEBIH MENDALAM


Pengantar
Diagram Venn selain digunakan untuk memetakan lembaga-lembaga yang ada di masyarakat baik yang bersifat formal maupun non formal, ditinjau dari sisi kemanfaatan / kepentingannya yang dirasakan / dinilai oleh masyarakat serta hubungan interaksinya dengan masyarakat.  Namun demikian dalam pengembangannya, instrumen ini bisa diperdalam penggunaannya hingga melihat seberapa baik hubungan antar lembaga yang ada, hingga individu-individu yang berpengaruh di masyarakat.

Langkah-langkah
J   Minta kelompok (apakah itu kelompok ibu-ibu, kelompok campuran, atau khusus kelompok laki-laki, bisa pula berdasarkan usia, yaitu kelompok remaja, dewasa, dan orang-orang tua), untuk menginventarisir lembaga-lembaga apa saja baik formal maupun non formal yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan (bisa pula topikal, seperti tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan) masyarakat di desa / di kampung / di dusun itu.  Tuliskan di plano dan letakkan di lantai.
J   Tuliskan keseluruhan lembaga tersebut ke dalam lingkaran-lingkaran dan kemudian guntinglah lingkaran-lingkaran tersebut.
J   Berikutnya identifikasi pula individu-individu yang mempunyai pengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat (bisa pula topikal, seperti tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan) masyarakat di desa / di kampung / di dusun itu.  Tuliskan di plano dan letakkan di lantai.
J   Tuliskan keseluruhan individu tersebut ke dalam segitiga-segitiga dan kemudian guntinglah segitiga-segitiga tersebut.
J   Letakkan kertas plano di lantai (apabila dibutuhkan media yang lebih luas sambungkan 2 – 4 kertas plano dan bentangkan di lantai).
J   Letakkan guntingan lingkaran-lingkaran tersebut pada bentangan kertas plano di lantai sedemikian rupa sehingga lingkaran-lingkaran yang selama ini menurut peserta mempunyai hubungan yang erat satu sama lain, diletakkan berdekatan atau bahkan bersinggungan (menurut tingkat hubungannya; semakin erat semakin dekat tentunya).  Jangan ditempel permanen terlebih dahulu sebelum semua peserta menyatakan persetujuannya.
J   Berikutnya letakkan guntingan segitiga-segitiga sedemikian rupa sehingga segitiga yang selama ini menurut partisipan mempunyai hubungan yang erat satu sama lain atau yang mempunyai hubungan erat dengan lingkaran, diletakkan berdekatan atau bahkan bersinggungan (menurut tingkat hubungannya; semakin erat semakin dekat tentunya).  Jangan ditempel permanen terlebih dahulu sebelum semua peserta menyatakan persetujuannya.
J   Dengan menggunakan spidol warna biru, berikan garis hubung antar lingkaran, antar segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta hubungan kerjanya selama ini berjalan sangat-sangat baik.
J   Berikutnya dengan menggunakan spidol warna hijau, berikan garis hubung antar lingkaran, antar segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta hubungan kerjanya selama ini berjalan biasa-biasa saja.
J   Kali ini dengan menggunakan spidol warna merah, berikan garis hubung antar lingkaran, antar segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta hubungan kerjanya harus lebih diperbaiki ke depan.
J   Dan terakhir dengan menggunakan spidol warna hitam, berikan garis hubung antar lingkaran, antar segitiga, atau antara lingkaran-segitiga, yang menurut penilaian peserta selama ini tidak terjadi hubungan / relasi sama sekali, namun dipandang sangat penting dibangunnya relasi tersebut guna kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat ke depan.
J   Fokuskan pada garis hubung warna merah dan garis hubung warna hitam.  Ajak peserta untuk berdiskusi agar garis-garis tersebut pada akhirnya akan menjadi garis hubung berwarna biru.  Apa saja yang harus dilakukan, dan pihak-pihak mana saja yang harus berperan di dalamnya untuk mewujudkan garis biru ini terjadi.

Selasa, Agustus 07, 2012

Tips Mengatasi Stress di depan Peserta


Pertahankan Sikap Tenang Anda. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak diharapkan, hal penting untuk diingat adalah pertahankan kesabaran Anda (tetap bersabar). Anda harus tetap tenang dan terkendali.  Beberapa teknik akan membantu Anda dalam keadaan tersebut:
Mulai untuk memperpelan suara. Ketika kita merasa gugup atau kesal, suara kita cenderung meninggi, terutama pada wanita.
Bernafas dengan dalam.  Nafas yang pendek adalah suatu pertanda ketegangan dan akan mempengaruhi kualitas suara.
Atur kecepatan.  Banyak orang memiliki kecenderungan untuk berbicara dengan lebih cepat ketika mereka berada di bawah tekanan, jadi konsentrasilah untuk mempertahankan (kecepatan berbicara) pada ‘tingkatan sedang’ saat menanggapi atau merespon.
Atur suara Anda. Meskipun Anda ingin mengeraskan suara Anda, jangan sampai Anda berteriak.  Pertahankan tingkatan suara yang masuk akal, bersuaralah dengan cukup keras untuk memastikan
bahwa Anda didengar tapi jangan terlalu keras sehingga Anda terdengar seperti marah atau lepas kendali.
Perhatikan perilaku nonverbal. Hindari bahasa tubuh yang menunjukkan ketegangan seperti memainkan baju, perhiasan, penjepit kertas, atau penunjuk. Perilaku tersebut betul-betul
mengungkapkan rahasia bahwa Anda kehilangan kendali. Juga berhati-hati untuk tidak tampil dengan cara menyerang balik. Jika Anda bergerak, tetap buka telapak tangan Anda dan jangan
menunjuk-nunjuk.

Seni Menanggapi Pertanyaan


Agar menguasai seni menanggapi pertanyaan, pertimbangkanlah panduan berikut ini:

Tentukan Peraturan Dasar di Permulaan. Di awal sesi, katakan kepada peserta tentang bagaimana Anda akan menanggapi pertanyaan mereka: sepanjang sesi, di tengah-tengah sesi, atau di akhir sesi.  Jika Anda mendorong orang untuk bertanya tentang hal yang mereka pikirkan, mungkin Anda perlu membatasi banyaknya pertanyaan atau lamanya waktu untuk bertanya agar Anda tetap tepat waktu sesuai jadwal.  Hal yang tidak kalah penting adalah beritahukan secara jelas kapan Anda akan menjawab pertanyaan dan kapan Anda tidak akan menjawab pertanyaan.  Jika Anda berencana untuk menjawab pertanyaan saat suatu bagian telah selesai, sarankan kepada peserta untuk menulis pertanyaannya sehingga mereka
tidak lupa.

Mengulang Pertanyaan. Terkadang jawaban pelatih tidak sesuai dengan pertanyaan, mungkin karena tidak menggunakan kesempatan guna memperjelas dan menegaskan hal yang sebenarnya dipikirkan
oleh peserta. Terkadang, seseorang mengajukan pertanyaan dengan pengucapan yang tidak jelas dan mungkin mengalami kesulitan untuk menyusun pertanyaan secara padat dan singkat.  Ulangi dan bahasakanlah kembali pertanyaan yang diajukan sebelum Anda menjawabnya.  Ulangi pertanyaan untuk memastikan tiga hal:
1. Pastikan bahwa kelompok lain telah mendengar pertanyaannya.
2. Pastikan bahwa Anda telah mendengar pertanyaannya dengan tepat.
3. Sediakan sedikit waktu untuk mengatur pikiran (ide/ gagasan) Anda sebelum memberikan jawaban.

Untuk memastikan bahwa Anda mengerti maksud pertanyaan tersebut, pembahasaan kembali dengan mengatakan, “Jika saya tidak salah dengar, pertanyaan Anda adalah… Apakah benar?”.  Jika pertanyaan yang diajukan cukup panjang, tanyakan apakah boleh Anda merangkai ulang kata-katanya; kemudian susun kembali pertanyaan tersebut secara padat dan periksakan guna melihat bahwa Anda memang menangkap inti pertanyaan.  Jangan, bagaimanapun, membahasakan ulang dengan menggunakan kalimat berikut ini:
“Yang Anda maksud adalah…”
“Yang Anda katakan adalah…”
“Hal yang Anda coba untuk katakan adalah…”
Kalimat-kalimat tersebut bersifat menghina dan merendahkan. Pesan yang tersirat adalah: “Jelas sekali Anda tidak lancar dalam mengungkapkan diri Anda sendiri, jadi biarkan saya membantu Anda
keluar.”

Gunakan Kontak Mata. Lihat ke arah penanya ketika Anda membahasakan kembali pertanyaannya untuk memastikan bahwa Anda mengerti.  Saat Anda menyampaikan jawaban Anda, tujukan kepada seluruh kelompok, jangan hanya tujukan kepada penanya.

Berhati-hatilah dalam Memilih Kata. Pilihlah kata-kata secara hati-hati dan pikirkan dampak kata-kata tersebut terhadap peserta. Hindari menggunakan kata-kata seperti “jelas-jelas” atau “paham?”. Kata
tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa penanya seharusnya sudah mengerti jawaban atas pertanyaannya.  Sejalan dengan hal tersebut, kalimat “Anda harus mengerti…” terdengar seperti memerintah dan mengarahkan orang lain. “Anda seharusnya…” terdengar seperti menceramahi atau mengkhotbahi.

Hargai Kelompok. Jangan pernah meremehkan atau mempermalukan peserta.  Artinya bahwa terkadang Anda harus belajar untuk sedikit bersabar, terutama ketika seseorang mengajukan pertanyaan tentang sesuatu yang sudah Anda sampaikan saat sesi. Jangan pernah sekalipun Anda berkata, “Seperti yang telah saya sebutkan…”. Lebih baik Anda menjawab pertanyaan dengan menyusun kembali inti jawaban secara jeli sehingga Anda tidak mengulangi kata-kata sama persis seperti yang telah Anda sampaikan sebelumnya.

Menanggapi Kepentingan Individual. Terkadang peserta akan bertanya yang sangat fokus dan hanya berkaitan dengan dirinya.  Jika hal itu terjadi, berikan jawaban singkat kemudian anjurkan kepada dia
untuk membicarakan hal tersebut dengan Anda setelah sesi selesai. Gunakan juga strategi yang sama untuk peserta yang bertanya tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan topik.  Selalu tunjukkan keterbukaan dan kesediaan Anda untuk berbicara lebih lanjut secara perorangan.

Jangkau Semua Bagian Ruangan.  Terkadang pelatih memiliki kecenderungan untuk hanya melihat ke sisi kanan atau sisi kiri, dan akibatnya, pelatih hanya akan memperoleh pertanyaan hanya dari satu sisi ruangan saja.  Meskipun tidak sering, orang yang berada di sisi lain yang terabaikan akan menjadi cemas dan marah. Sama halnya, beberapa pelatih akan menyambut peserta yang berada di depan karena mudah bagi pelatih untuk melihat dan mendengar mereka.

Jujur.  Terkadang orang mengajukan pertanyaan yang tidak dapat Anda jawab. Jujurlah.  Jangan takut untuk berkata, “Saya tidak tahu”. Bagaimanapun, jangan mengabaikan pertanyaan tersebut.  Anda bisa
menawarkan diri untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan tersebut dan akan menghubungi peserta melalui telepon atau e-mail atau di akhir sesi atau katakan kepada mereka di mana mereka bisa
mendapatkan informasi tambahan.

Hal-hal yang Tidak untuk Dikatakan.  Dalam upaya untuk menyokong dan mendorong, seringkali pelatih akan berkata kepada peserta dengan kalimat “Itu pertanyaan yang bagus”.  Hal yang ‘membahayakan’ adalah bahwa mungkin Anda terdengar seperti merendahkan atau tidak jujur.  Selain itu, orang lain yang tidak memperoleh umpan balik atau penguatan yang sama mungkin merasa pertanyaan mereka tidak ‘bagus’.  Lebih baik Anda menanggapi dengan berkata, “Itu pertanyaan yang menarik” atau “Itu pertanyaan yang membangkitkan minat”.  Demikian pula, jawaban seperti “Saya senang Anda mengajukan pertanyaan tersebut” mungkin orang lain akan memiliki pemahaman bahwa Anda tidak senang ketika peserta bertanya.  Setelah Anda menjawab, jangan berkata, “Apakah itu menjawab pertanyaan Anda?”. Apa yang terjadi jika peserta menjawab bahwa Anda tidak menjawab pertanyaan?.  Lebih buruk lagi, mungkin
pertanyaan peserta tidak terjawab tapi tidak ingin mempermalukan Anda atau dirinya dan membiarkannya berlalu begitu saja. Dengan menanyakan apakah Anda telah menjawab pertanyaan, berarti Anda lepas kontrol dan terkesan kurang yakin terhadap jawaban yang disampaikan. Jawaban yang lebih baik mungkin seperti, “Apakah Anda memiliki pertanyaan lain?” atau “Apakah Anda ingin saya menjelaskan lebih detil (rinci)?”.  Ini adalah pendekatan yang jauh lebih anggun dan tidak memalukan baik untuk pelatih maupun peserta.  Selain itu, hal-hal tersebut juga memberi kesempatan bagi peserta untuk memperjelas pertanyaannya atau sedikit menanyakan lebih lanjut, jika diperlukan, sehingga peserta merasa puas.

Seni Bertanya


Seni mengajukan pertanyaan merupakan penghubung bagi keberhasilan Anda sebagai fasilitator pembelajaran untuk orang dewasa. Kuncinya adalah mengajukan pertanyaan yang dapat merangsang terjadinya diskusi dan interaksi. Untuk merangsang terjadinya diskusi, pastikan bahwa pertanyaan Anda adalah pertanyaan terbuka. 

Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang diawali dengan siapa, apa, dimana, kapan, mengapa,atau bagaimana. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata tersebut akan memunculkan jawaban yang lebih detil/rinci dan sarat makna dari para peserta.  Pertanyaan tertutup, di sisi lain, adalah pertanyaan yang dapat dijawab oleh seseorang dengan kata “ya” atau “tidak” dan tentunya pertanyaan ini tidak mendorong partisipasi. Untuk membuat hal ini menjadi mudah, cobalah untuk mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan bagaimana atau apa. Jika Anda membiasakan diri untuk bertanya dengan jenis pertanyaan tersebut, maka diskusi dan keberlangsungan bagian dalam kelompok Anda akan berjalan efektif.

Hindari menggunakan pertanyaan yang dimulai dengan kata mengapa. Pertanyaan mengapa cenderung menempatkan orang dalam keadaan membela diri. Mereka merasa harus menjelaskan dan membenarkan jawabannya.  Belajarlah untuk menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan hasil yang Anda harapkan. Sebagai contoh, jka Anda ingin memulai diskusi, tanyakan pertanyaan umum tentang hal-hal yang berkaitan dengan kelompok.  Dalam program layanan konsumen, Anda bisa bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang peran organisasi berkaitan dengan kualitas jasa yang diberikan?”. Tipe pertanyaan ini mendorong orang untuk mengemukakan pendapat. Berikutnya mungkin Anda ingin mengungkap alasan di balik pendapat yang baru saja dikemukakan, Anda dapat memberikan pertanyaan spesifik seperti, “Contoh keadaan seperti apa sajakah yang membuat Anda yakin bahwa tingkat pendampingan kepada masyarakat perdesaan telah berjalan dengan baik [belum tuntas, perlu peningkatan]?”

Setelah Anda memberikan pertanyaan, diamlah sesaat. Pelatih memiliki kecenderungan untuk menanyakan sesuatu, dan ketika tidak ada satu pun peserta yang segera menjawab, maka pelatih yang
akan menjawab.  Diam, tentunya, tidaklah nyaman, dan mungkin Anda merasa bahwa Anda harus berbicara dan mengisi ‘kehampaan’ tersebut. Biarkan ke-diam-an itu terjadi.  Belajar untuk mengajukan
pertanyaan kemudian diamlah selama sepuluh hingga dua belas detik untuk memberikan waktu kepada peserta agar bisa memikirkan jawabannya. Jika Anda senantiasa menjawab sendiri pertanyaan yang
Anda ajukan, maka tidak ada alasan bagi peserta untuk mengajukan ide-idenya.

Menjawab Pertanyaan
Dalam suasana yang bersemangat, bebas-resiko, dan dinamis, peserta akan terangsang untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Meskipun memang hal inilah yang kita harapkan bisa terjadi, tipe interaksi dari peserta dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik.




Alasan Orang Mengajukan Pertanyaan
Pemahaman terhadap motivasi peserta akan membantu Anda agar lebih siap untuk menghadapi hal-hal yang diharapkan dan atau yang tidak diharapkan.

Untuk Memperoleh Informasi atau untuk Memperjelas. Tidak penting seberapa jelas Anda menyampaikan suatu pesan, peserta tidak akan mengolah semuanya dan belum tentu akan memahami
informasi tersebut melalui cara yang sama atau saat itu juga. Beberapa di antara peserta akan menginginkan dan membutuhkan informasi tambahan untuk membantu mereka mengerti materi
dengan lebih jelas atau untuk memuaskan hasrat mereka terhadap informasi secara rinci.  Mungkin mereka menginginkan adanya kepastian bahwa Anda mengerti tentang hal-hal yang Anda bicarakan.
Sesuatu yang Anda sampaikan di awal mungkin telah memunculkan rasa ingin tahu atau memancing munculnya ketertarikan untuk memperoleh informasi yang lebih banyak lagi mengenai suatu topik.  Di akhir, mereka akan menanyakan sumber informasi lainnya dan berharap agar Anda memberikan anjuran kepada mereka. Meskipun Anda sudah dilengkapi dengan bibliografi atau daftar bacaan yang
disarankan, mereka akan meminta Anda untuk menyarankan atau mengenalkan sumber-sumber tersebut untuk kepentingan tertentu dan mencari sesuatu.

Untuk Mengesankan Orang Lain. Setiap kelompok memiliki satu orang atau lebih yang senang mengajukan pertanyaan dan ini dianggap sebagai kesempatan untuk diperhatikan baik oleh teman
sekelompok ataupun seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Menjadi sorotan mungkin bisa memuaskan kebutuhan ego beberapa orang.  Bagi orang lain, dengan ‘bertanya’ akan memberikan kesempatan bagi peserta untuk menunjukkan kualitas diri seperti ketegasan dan keberanian mengambil resiko atau untuk memamerkan pengetahuan mereka tentang suatu hal agar bisa naik jabatan.

Untuk Mengurangi Kredibilitas Pelatih. Untuk beragam alasan, beberapa peserta tidak akan menyukai pelatih atau hal-hal yang pelatih katakan.  Mereka mengambil setiap kesempatan untuk membuat pelatih tampak buruk atau melihat pelatih tersebut kesal sehingga bisa dijadikan sebagai hiburan mereka.  Mungkin mereka melihat hal ini sebagai peluang untuk membalas atau mengurangi kredibilitas pelatih.

Untuk Membantu Pelatih. Pertimbangan lainnya adalah tentang peserta yang benar-benar menyukai pelatih dan ingin membantu pelatih agar telihat baik.  Jika mereka setuju dengan posisi pelatih dalam topik tertentu, mereka akan membantu untuk memperkuat kesan tersebut.

Untuk Menghindari Kembali Pada Pekerjaan. Beberapa orang mungkin mengajukan pertanyaan sebagai cara untuk memperpanjang sesi, sehingga mencegah mereka kembali bekerja, terutama jika sesi
tersebut akan selesai. Mereka mungkin akan berpikiran bahwa semakin banyak pertanyaan yang mereka ajukan dan semakin banyak waktu yang bisa mereka perpanjang, maka tidak akan ada cukup waktu untuk kembali bekerja dan mereka bisa libur lebih awal.